Sabtu, 28 Juli 2018

Udang Windu (Penaeus monodon)


Udang Windu (Penaeus monodon)

Udang windu digolongkan ke dalam keluarga Penaeid pada filum Arthropoda. Terdapat ribuan spesies dalam filum ini, namun yang mendominasi perairan berasal dari subfillum Crustacea. Berikut tata nama udang windu kompilasi dari Motoh (1981) dan Landau (1992):

Kingdom        : Animalia
Subkingdom : Metazoa
Fillum             : Arthropoda
Subfillum       : Crustacea
Kelas               : Malacostraca
Ordo               : Decapoda
Famili             : Penaeidae
Genus                         : Penaeus
Spesies            : Penaeus monodon

Tubuh udang windu terdiri dari dua bagian yaitu kepala (thorax) dan perut (abdomen). Bagian kepala terdiri dari antenna, antenulle, mandibula dan dua pasang maxillae. Kepala dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan dua pasang kaki jalan (periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Bagian perut (abdomen) terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson (Motoh, 1981).

Tubuh udang windu dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Udang windu mempunyai tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton secara periodik yang biasa disebut dengan istilah moulting (Landau, 1992).

Udang penaeid dibedakan satu dengan lainnya oleh bentuk dan jumlah gigi pada rostrumnya. Udang windu mempunyai 2-4 gigi pada bagian tepi ventral rostrum dan 6-8 gigi pada tepi dorsal (Motoh, 1981). Udang windu betina mempunyai thellycum tertutup yakni adanya lapisan atau seminal reseptakel (landau, 1992).

Sebagian besar udang dewasa dari famili Penaeid mengalami siklus hidupnya di daerah lepas pantai. Pada daerah ini udang akan menjadi dewasa kemudian mengalami perkawinan sampai menetaskan telur. Akan tetapi, setelah telur mengalami perubahan stadia menjadi mysis, maka udang akan melakukan migrasi menuju perairan pantai hingga menjadi juvenil (Whetstone et al, 2002).

Menurut Djunaidah (1989) dan Mudjiman. A (1981), perkembangan stadia pada udang penaeid yaitu   :
1. Naupli; naupli menetas dari telur. Pada stadia ini memiliki 5 tahapan perubahan stadia. Stadia ini belum aktif mencari makan dan melayang-layang di antara permukaan dan dasar laut, yakni bersifat demersal. naupli masih menggunakan cadangan makanan yang dimiliki oleh tubuhnya sehingga tidak memerlukan asupan pakan dari luar. Akan tetapi, pada stadia naupli 5 telah diberikan pakan alami berupa fitoplankton (terutama diatom).

2. Zoea ; stadia ini merupakan stadia kritis dimana pada stadia ini merupakan awal mulai makan phytoplankton yang berasal dari lingkungan perairan sekelilingnya. Pada stadia ini tubuh udang mengalami perpanjangan dibandingkan pada stadia naupli. Protozoea memiliki kemampuan renang aktif ke lapisan permukaan laut dan menghanyut sebagai plankton. Pada 3 stadia ini terdapat perkembangan mata dan rostrum. zoea memiliki kebiasaan makan dengan cara menyerap (filter feeder). Kebutuhkan asupan pakan ini didapatkan dari media pemeliharaan berupa fitoplankton. Pakan alami yang diberikan pada stadia ini berupa Chaetoceros sp., Pavlova lutheri, Nannochloris oculata, Skeletonema costatum, Thalassiosira pseudonana dan   Tetraselmis sp.

3. Mysis; stadia ini dikarakteristikan dengan tubuh yang lebih panjang. Pada 3 stadia mysis, telson dan pleopod sudah mulai tampak. Mysis memiliki kebiasaan makan dengan cara menyerap (filter feeder). Kebutuhan asupan pakan diperoleh dari media pemeliharaan berupa Skeletonema costatum dan artemia stadia instar 1.

4. Post larva ; perkembangan dan organ tubuh pada stadia ini sama dengan udang dewasa. Pada stadia ini udang banyak menghabiskan waktu didasar kolam dan menyukai untuk memakan hewan-hewan kecil yang hidup di dasar laut (benthos).

KLASIFIKASI DAN ANATOMI UDANG WINDU
Klasifikasi dan anatomi udang windu
3.1.Taksonomi  Udang Windu
       Pada awal perkembangan di Indonesia udang ini dikenal dengan nama udang windu. Sampai sekarangpun dikenal dengan udang windu (Penaeus monodon). Ada dua jenis yang termasuk Penaeus monodon yaitu udang  windu (Penaeus monodon) dan windu (Penaeus monodon stylirostris).

Klasifikasi  L. Windu (wyben dan sweeney, 1991) adalah sebagai berikut:
a)      Phylum         : Arthropoda
b)      Kelas            : Crustacea
c)      Sub kelas      : Malacostraca
d)      Seri               : Eumalocastraca
e)      Super ordo    : Eucarida

f)       Ordo               : Decapoda
g)      Sub  ordo        : Dendro branchiata
h)      Infra ordo       : Penaeidea
i)       Super family   : Penacoidea
j)       Family            : Penaedea
k)      Genus             : Penaeus
l)       Species          : Penaeus monodon

3.2.Morfologi Udang Windu
Warna tubuhnya secara keseluruhan putih agak mengkilap dengan titik warna hitam yang menyebar di sepanjang  tubuhnya. Bagian tubuh udang windu  dibagi 2 bagian terdiri dari kepala dan dada (Cephalothorax) dan perut ( Abdomen ) .


a. Kepala ( Thorak )
Cephalothorak  disusun oleh kulit yang kasar dan tebal dengan kandungan utamanya chitin yang disebut carapace. Bagian ujungnya terdapat antena sebanyak dua buah dan rostrum yang bergerigi.  Belakang rostrum terdapat sepasang mata yang bertangkai yang berada di kanan dan kiri rostrum . Pada bagian badan kepala bawah terdapat kaki jalan (Pereiopada ) sebanyak lima pasang, 2 pasang maxille yg sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan .

b.      Perut ( Abdomen )
Perut ( Abdomen ) terdiri dari 5 ruas yang tersusun rapi seperti atap genting  , terdapat 5 pasang kaki renang ( Pleopods ) yg berfungsi sebagai penggerak tubuh udang. Pada bagian ujung abdomen , ruas ke 6 terdapat bagian yg runcing disebut telson . Bagian ekor yang terbuka digunakan berenang adalah uropada , Alat kelamin jantan ( Petasma ) terbentuk seperti huruf” u” tedapat pada pangkal kaki Jalan ke lima. Sedang alat kelamin betina ( Thellycum ) berbentuk seperti huruf “i” .

Berdasarkan siklus hidupnya pertumbuhan udang dibedakan menjadi beberapa fase, al:

1.     Stadia naupli
Pada fase ini pencernaannya belum sempurna dan untuk kebutuhan unsur hara dalam tubuhnya berasal dari cadangan makanan berupa kuning telur ( yolk sac ) Sehingga benih udang windu membutuhkan makanan dari luar pada saat larva berukuran 0,32 – 0,58 mm.

2.    Stadi Zoea
Sekitar  2-3 hari setelah menetas masuk pada fase zoe. Pada stadia ini larva sudah berukuran 1,06 – 3,30 mm dan benih udang sudah mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia Zoea 1, zoea 2 dan zoea 3. Waktu untuk memasuki stadia berikutnya yaitu mysis sekitar 4-5 hari

3.    Stadia Mysis
Secara morfologi larva udang sudah menyerupai bentuk udang. Pada stadia ini sudah mulai diberikan pakan alami yaitu fitoplankton dan zooplankton, pada saat ukuran larva 3,50-480 mm. Perubahan morfologi pada stadia ini terdiri dari 3 tahap yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3. Waktu pada fase ini adalah 3-4 hari.

4.    Stadia Post Larva (PL)
Organ tubuh udang sudah lengkap dan organ tuuhnya sudah berfungsi dengan baik, pada saat menjadi post larva hitungan umum udang pada post larva (pl), misalnya setelah 1 hari menjadi pl, maka disebut pl-1 , dua hari disebut pl 2 dan seterusnya udang windu dapat mulai ditebar di tambak setelah mencapai pl 9.

3.3.Fisiologi Udang Windu
-    Nokturnal : aktif apabila gelap
-    Photo thermal : tidak bisa mengatur suhu tubuhnya
-    Photo tropy negative : menghindari cahaya terang
-    Kanibal : makan sesama jenis
-    Moulting : ganti kulit
-    Makan lambat
-    Solyter : lebih senang hidup menyendiri (tidak sukabergerombol 1 seperti ikan)
-    Amonothelic : salah satu ekskresinya amoniak yang dikeluarkan lewat insang
-    Usus pendek
-    Bisa hidup di dasar


Perubahan Iklim, Variabilitas dan Budidaya Ikan


Perubahan Iklim, Variabilitas dan Budidaya Ikan

Akuakultur telah memberikan kontribusi kuat terhadap pertumbuhan produksi perikanan, memberikan kontribusi hampir setengah ikan yang dikonsumsi sebagai makanan. Budidaya tidak hanya memberikan kontribusi pekerjaan dan makanan tetapi juga membantu sektor perikanan secara keseluruhan dengan merapikan puncak dan lembah produksi alami. Hal ini membuat harga stabil dan memungkinkan restoran dan pasar untuk menjaga produk mereka stabil. Produksi biasanya berkonsentrasi pada spesies dengan harga yang lebih tinggi, seperti udang, salmon dan trout dan pada spesies yang lebih mudah untuk memproduksi, seperti lele.

Global perubahan
Kekuatan pendorong di balik perubahan iklim alami adalah efek rumah kaca di tempat kerja dalam sistem iklim dunia kita. Sebagai radiasi matahari inframerah dari matahari mencapai bumi, sekitar 30 persen dari itu dipantulkan kembali ke angkasa, tanpa memasuki atmosfer. Lain 20 persen segera diserap ke atmosfer, dan sisanya 50 persen mencapai permukaan bumi, di mana banyak yang diserap dan sisanya dipantulkan kembali ke atmosfer dan melalui ke ruang angkasa. Jumlah radiasi matahari yang mencapai bumi adalah sama dengan jumlah yang dicerminkan, menjaga keseimbangan energi. Tanpa efek rumah kaca , lingkungan di Bumi tidak akan menguntungkan untuk mempertahankan hidup.
Ini keseimbangan energi sekarang sedang diubah oleh dua komponen atmosfer. Pertama, gas rumah kaca (GRK) - yang paling terkenal menjadi karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitro oksida (N2O), sulfur heksafluorida (SF6), hidrofluorokarbon (HFC), dan perfluorokarbon (PFC), menangkap beberapa dari energi yang dipantulkan dari permukaan bumi, menyimpannya dalam atmosfer kita dan pemanasan planet. Kedua, aerosol - partikel kecil tersuspensi di udara - terutama memiliki efek pendinginan di Bumi karena mereka mencerminkan radiasi matahari kembali ke angkasa sebelum mencapai atmosfer, meskipun aerosol seperti karbon hitam yang dihasilkan dari pembakaran biomassa dan knalpot mesin diesel memiliki efek pemanasan .
Laut juga merupakan mesin yang menggerakkan iklim dunia, menyimpan sejumlah besar energi surya dalam proses. Samudra menyerap dan menyimpan karbon dioksida dari atmosfer. Karena gas ini tak terlihat adalah salah satu agen utama perubahan iklim, laut merupakan wastafel penting yang membantu untuk memodifikasi dampak manusia pada iklim global. Arus laut, jalan raya super planet biru, mentransfer sejumlah besar air dan nutrisi dari satu tempat ke tempat lain.
Lingkungan variabilitas
Variabilitas lingkungan adalah fitur kunci dari ekosistem dieksploitasi atau murni dan memiliki implikasi yang sangat signifikan untuk produksi, pengembangan dan pengelolaan perikanan. Frekuensi perubahan yang diamati dan amplitudo dari perubahan ini sangat bervariasi. Pengaruh timbal balik antara variasi alam dan perubahan iklim yang tidak dipahami dengan baik, meskipun jelas bahwa mereka berdua mempengaruhi perkembangan perikanan dan hasil pengelolaan. Hanya dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi jelas bahwa ada pola iklim skala decadal yang mempengaruhi produksi pada skala cekungan laut, bahkan mungkin secara global untuk beberapa spesies.
Laut dipengaruhi oleh variasi alam kurang lebih teratur. Sumber utama makanan dari lautan adalah dari perikanan tangkap dan budidaya. Produktivitas biologis yang memanfaatkan perikanan bervariasi dari satu tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu dalam kaitannya dengan kondisi oseanografi yang berubah secara alami, dari tahun ke tahun dan musiman. Beberapa fluktuasi alami kurang sering, berubah hanya setelah beberapa dekade.
Dampak
Dampak perubahan iklim cenderung untuk memperkuat variasi alam dan memperburuk tekanan yang ada pada stok ikan laut, terutama memancing tekanan, lahan basah berkurang dan daerah pembibitan, polusi, dan radiasi UV-B. Di lautan, perubahan iklim diharapkan dapat menghasilkan peningkatan suhu permukaan laut, naiknya permukaan laut global, penurunan es laut penutup dan perubahan salinitas, kondisi gelombang, dan sirkulasi laut. Di darat, perubahan iklim, perubahan iklim akan mempengaruhi ketersediaan air, rezim aliran sungai (terutama di dataran banjir), ukuran danau, dll dan kebutuhan air untuk kegiatan lain bersaing dengan perikanan. Perubahan ini pada gilirannya akan berdampak pada produktivitas biologis ekosistem perairan dan perikanan. Dampak yang diharapkan dari perubahan iklim global adalah peningkatan variabilitas kondisi lingkungan.
Sensitivitas terhadap perubahan global akan bervariasi antara perikanan. Yang paling terkena dampak akan perikanan di sungai kecil dan danau, di daerah dengan suhu yang lebih besar dan perubahan curah hujan dan pada spesies anadromous. Mereka akan diikuti oleh perikanan dalam Zona Ekonomi Eksklusif, terutama di mana peraturan akses kaku mengurangi mobilitas nelayan dan kapasitas mereka untuk menyesuaikan diri dengan fluktuasi distribusi saham dan kelimpahan, perikanan di sungai besar dan danau, perikanan di muara (terutama di mana terdapat spesies tanpa migrasi atau penyebaran spawn) dan di laut lepas. 
Lebih khusus untuk perikanan, terkait perubahan iklim pemanasan dapat menyebabkan: 
1.      Besar kemungkinan akan ada risiko penipisan oksigen; 
2.      Spesies beralih ke lebih toleran hangat dan mungkin kurang oksigen perairan; 
3.      Pemindahan atau re-desain dan relokasi fasilitas pesisir; 
4.      Daerah Pesisir budaya mungkin perlu mempertimbangkan dampak dari kenaikan permukaan
       laut pada fasilitas dan membebaskan dari kontaminan dari situs sampah terdekat 
5.      Perubahan di tingkat curah hujan, aliran air tawar, dan danau
6.      Pengenalan organisme penyakit baru atau spesies eksotis atau yang tidak diinginkan 
7.      Pembentukan mekanisme kompensasi atau strategi intervensi 
8.      Modifikasi dari sistem akuakultur, misalnya menjaga mereka di dalam ruangan di bawah
       cahaya terkontrol, mungkin diperlukan lebih sering untuk melindungi larva dari matahar
       UV-B. 

Dampak positif
Perubahan iklim diproyeksikan umumnya akan positif untuk budidaya, yang sering dibatasi oleh cuaca dingin. Karena banyak perubahan akan melibatkan malam lebih hangat dan musim dingin, harus ada waktu yang lebih lama dari pertumbuhan, dan pertumbuhan harus ditingkatkan. Juga, harus ada biaya yang lebih rendah dari kebutuhan untuk membuat struktur tahan es dan untuk memanaskan air dengan suhu optimal.  
Kemungkinan solusi 
Sementara sektor perikanan tidak bisa berbuat banyak untuk menghambat atau serius mempengaruhi perubahan iklim global, bisa berkontribusi untuk stabilisasi atau pengurangan, dan untuk mengurangi dampaknya. Perubahan iklim meskipun, ada beberapa tindakan yang perlu dipertimbangkan. Strategi yang paling penting adalah mereka dibutuhkan untuk mempromosikan keberlanjutan dan yang berguna dan praktis, bahkan tanpa adanya perubahan iklim. Selanjutnya, ketika mengembangkan strategi, kita perlu mempertimbangkan baik masalah dan peluang yang sedang disajikan, dengan cara sebagai berikut: 
1.        Aktif partisipasi di tingkat global dan regional, untuk perdebatan dan kolaborasi, untuk memperoleh informasi yang terbaik dari perikanan yang terkait dengan dampak;
2.      Mengalokasikan dana penelitian untuk menganalisis perubahan potensi lokal dan regional besarnya sumber daya dan komposisi dan kemungkinan dampak sosial ekonomi;
3.      Berbagi informasi yang diperoleh dengan sektor pada potensi perubahan, skala dan efek yang mungkin pada sumber daya dan perikanan; 
4.      Membangun mekanisme kelembagaan untuk mengaktifkan atau meningkatkan kapasitas kepentingan nelayan (armada dan infrastruktur lainnya) untuk bergerak di dalam dan melintasi batas-batas nasional sebagai akibat dari perubahan dalam distribusi sumber daya. Ini berarti mengembangkan perjanjian bilateral; 
5.      Mempersiapkan rencana kontingensi untuk segmen dari sektor yang mungkin tidak bisa bergerak, terutama untuk daerah tertinggal dan nelayan berskala kecil kurang mobilitas dan alternatif; 
6.      Mengembangkan efektif nasional dan internasional rezim skala manajemen sumber daya dan sistem pemantauan terkait untuk memfasilitasi adaptasi rezim eksploitasi dalam lingkungan pergeseran; 
7.      Penguatan daerah perikanan organisasi manajemen dan mekanisme lain untuk menangani lintas-perbatasan saham; 
8.      Mengintegrasikan pengelolaan perikanan ke manajemen wilayah pesisir untuk memastikan bahwa kebutuhan perikanan yang diambil ketika berhadapan dengan perlindungan wilayah pesisir dari kenaikan permukaan laut; dll
9.      Menganalisis akuakultur keberlanjutan dalam konteks ekoregional, meramalkan perubahan dalam produktivitas atau resistensi dan perubahan terkait yang diperlukan dalam sistem budaya, spesies budidaya atau delokalisasi sistem produktif;
10.  Pembinaan penelitian interdisipliner, dengan ilmuwan bertemu secara berkala untuk bertukar informasi mengenai pengamatan dan hasil penelitian, dan pertemuan dengan manajer untuk memastikan interpretasi yang tepat dari hasil dan relevansi penelitian ;
11.  Meramalkan dan perencanaan adaptasi infrastruktur.



JENIS-JENIS MANGROVE


JENIS-JENIS MANGROVE


Diperkirakan ada sekitar 89 spesies mangrove yang tumbuh di dunia, yang terdiri dari 31 genera dan 22 famili. Tumbuhan mangrove tersebut pada umumnya hidup di hutan pantai Asia Tenggara, yaitu sekitar 74 spesies, dan hanya 11 spesies hidup di daerah Caribbean. Lebih lanjut menurut Soegiarto dan Polunin (1982) dalam Supriharyono (2000) dari jumlah ini sekitar 51% atau 38 spesies hidup di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk spesies ikutan yang hidup bersama di daerah mangrove (KLH et al., 1993 dalam Supriharyono, 2000). Ada beberapa spesies tumbuhan pantai, yaitu sekitar 12-16 spesies, yang masih diragukan apakah tumbuh-tumbuhan tersebut termasuk mangrove atau tidak. Sebagai contoh, famili Rhizophoraceae mempunyai 17 genera dan sekitar 70 spesies, akan tetapi hanya empat generasi dan 17 spesies diketahui benar - benar sebagai mangrove. Demikian pula famili Combretaceae, hanya tiga genera dan lima spesies yang diketahui sebagai mangrove (Supriharyono, 2000).

Ciri-ciri mangrove dari penampakan hutan mangrove terlepas dari habitatnya yang unik adalah jenis-jenisnya relatif sedikit, akar jangkar yang melengkung dan menjulang pada Rhizophora sp, akar yang tidak teratur dan keras atau pneumatofora pada marga Avicennia sp, dan Sonneratia sp, yang mencuat vertikal seperti pensil, adaptasinya yang kuat terhadap lingkungan sehingga biji (propagul) Rhizophora berkecambah di pohon (vivipar), sehingga banyaknya lentisel pada bagian kulit pohon (Departemen Kehutanan, 1997 dalam Noor et al., 1999).

Adapun beberapa jenis mangrove yang dikenal selama ini adalah:
a. Avicennia lanata
Nama setempat: api-api. belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar, dapat mencapai ketinggian hingga 8 m. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu (berwarna gelap), coklat hingga hitam. Daun : Memiliki kelenjar garam, bagian bawah daun putih kekuningan, dan ada rambut halus. Unit dan letak : sederhana dan berlawanan.

Bentuk : elips. Ujung : memundar agak meruncing, dan ukuran 9x 5 cm. Bunga : Bergerombol muncul di ujung tandan, bau menyengat, letak diujung atau ketiak tangkai / tandan bunga. Formasi : bulir (8-12). Daun mahkota : 4, kuning pucat – jingga tua, 4 – 5 mm. Kelopak bunga : 5 buah. 4 benang sari. Buah : Buah seperti hati, ujungnya berparuh pendek dan jelas, warna hijau–agak kekuningan. Permukaan buah berbunga halus (seperti ada tepungnya). Ukuran : sekitar 1,5 x 2,5 cm. Ekologi : Tumbuh pada dataran lumpur, tepi sungai, daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi.

Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli–Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. Penyebaran : Kalimantan, Bali, Lombok, Semenanjung, Malaysia, Singapura. Kelimpahan : Tidak diketahui. Manfaat: Kayu bakar dan bahan bangunan (Noor et al., 1999).

b. Rhizophora apiculata
Nama setempat : Bakau minyak, bakau tandok, bakau akik, bakau puteh, bakau kacang, bakau leutik, akik, bangka minyak, donggo akit, jangkar, abat, parai, mangi-mangi, slengkreng, tinjang wako. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter, dan kadang–kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu berwarna abu–abu tua dan berubah-ubah. Daun berkulit, warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah kemerahan dibagian bawah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Unit dan letak: sederhana dan berlawanan. Bentuk : elips menyempit dan meruncing. Ukuran 7-19 x 3,5-8 cm. Bunga : Biseksual, kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran < 14 mm. Letak : di ketiak daun. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Daun mahkota : 4; kuning putih, tidak ada rambut, panjangnya 9-11 mm. Kelopak bunga : 4; kuning kecoklatan, melengkung, Benang sari : 11-12; tak bertangkai. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir , warna coklat, panjang 2,3-5 cm, berisi satu biji fertil. Hipokotil Silindris, berbintil, berwarna hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi bisa mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi.

Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tumbuh lambat, tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun.

Penyebaran : Srilanka, seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia, tersebar jarang di Australia. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kayu bakar dan arang. Kulit kayu berisi hingga 30% tannin (per sen berat kering). Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Di Jawa acap kali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan (Noor et al, 1999).

c. Avicennia marina (Forsk.) Vierh.
Nama setempat api-api putih, api-api abang, sia-sia putih, pejapi, nyapi, hajusia. Deskripsi Umum belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar, ketinggian mencapai 30 m. memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus), akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning tidak berbulu. Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Bagian bawah daun putih-abu-abu muda. Unit & letaknya sederhana dan berlawanan.memiliki bentuk daun elips, bulat memanjang, bulat telur terbalik. Ujungnya meruncing hingga membundar, dengan ukuran 9 x 4,5 cm.

Bunga seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan, bau menyengat, nektar banyak. Letaknya di ujung atau di ketiak/tandan bunga. Daun mahkota ada 4 dengan warna kuning pucat jingga tua berukuran 5-6 mm. Kelopak bunga berjumlah 5 lalu benang sari ada 4. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung, memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang surut, bahkan di tempat asin sekalipun. Jenis ini juga dapat bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. Berbuah sepanjang tahun, kadang-kadang bersifat vivipar. Buah membuka pada saat matang, mempunyai lapisan dorsal. Buah juga dapat membuka karena dimakan semut atau setelah penyerapan air. Buah dapat dimakan. Kayu dapat menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. Daun digunakan sebagai makanan ternak.

d. Acrostichum aureum
Nama setempat mangrove varen, paku cai, hata diuk, paku laut. Batang menebal di bagian pangkal, cokelat tua dengan peruratan yang halus, pucat, tipis. Ujung daun fertil berwarna cokelat seperti karat, duri banyak berwarna hitam. Tumbuh di pematang tambak, sepanjang kali dan sungai payau dan saluran. Terdapat di seluruh Indonesia. Daun tua dapat digunakan sebagai obat, alas ternak dan dapat dimakan di daerah Timor dan Sulawesi Utara (Noor et al., 1999).