Sabtu, 28 Juli 2018

JENIS-JENIS MANGROVE


JENIS-JENIS MANGROVE


Diperkirakan ada sekitar 89 spesies mangrove yang tumbuh di dunia, yang terdiri dari 31 genera dan 22 famili. Tumbuhan mangrove tersebut pada umumnya hidup di hutan pantai Asia Tenggara, yaitu sekitar 74 spesies, dan hanya 11 spesies hidup di daerah Caribbean. Lebih lanjut menurut Soegiarto dan Polunin (1982) dalam Supriharyono (2000) dari jumlah ini sekitar 51% atau 38 spesies hidup di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk spesies ikutan yang hidup bersama di daerah mangrove (KLH et al., 1993 dalam Supriharyono, 2000). Ada beberapa spesies tumbuhan pantai, yaitu sekitar 12-16 spesies, yang masih diragukan apakah tumbuh-tumbuhan tersebut termasuk mangrove atau tidak. Sebagai contoh, famili Rhizophoraceae mempunyai 17 genera dan sekitar 70 spesies, akan tetapi hanya empat generasi dan 17 spesies diketahui benar - benar sebagai mangrove. Demikian pula famili Combretaceae, hanya tiga genera dan lima spesies yang diketahui sebagai mangrove (Supriharyono, 2000).

Ciri-ciri mangrove dari penampakan hutan mangrove terlepas dari habitatnya yang unik adalah jenis-jenisnya relatif sedikit, akar jangkar yang melengkung dan menjulang pada Rhizophora sp, akar yang tidak teratur dan keras atau pneumatofora pada marga Avicennia sp, dan Sonneratia sp, yang mencuat vertikal seperti pensil, adaptasinya yang kuat terhadap lingkungan sehingga biji (propagul) Rhizophora berkecambah di pohon (vivipar), sehingga banyaknya lentisel pada bagian kulit pohon (Departemen Kehutanan, 1997 dalam Noor et al., 1999).

Adapun beberapa jenis mangrove yang dikenal selama ini adalah:
a. Avicennia lanata
Nama setempat: api-api. belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar, dapat mencapai ketinggian hingga 8 m. Memiliki akar nafas dan berbentuk pensil. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu (berwarna gelap), coklat hingga hitam. Daun : Memiliki kelenjar garam, bagian bawah daun putih kekuningan, dan ada rambut halus. Unit dan letak : sederhana dan berlawanan.

Bentuk : elips. Ujung : memundar agak meruncing, dan ukuran 9x 5 cm. Bunga : Bergerombol muncul di ujung tandan, bau menyengat, letak diujung atau ketiak tangkai / tandan bunga. Formasi : bulir (8-12). Daun mahkota : 4, kuning pucat – jingga tua, 4 – 5 mm. Kelopak bunga : 5 buah. 4 benang sari. Buah : Buah seperti hati, ujungnya berparuh pendek dan jelas, warna hijau–agak kekuningan. Permukaan buah berbunga halus (seperti ada tepungnya). Ukuran : sekitar 1,5 x 2,5 cm. Ekologi : Tumbuh pada dataran lumpur, tepi sungai, daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang tinggi.

Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli–Februari dan berbuah antara bulan November hingga Maret. Penyebaran : Kalimantan, Bali, Lombok, Semenanjung, Malaysia, Singapura. Kelimpahan : Tidak diketahui. Manfaat: Kayu bakar dan bahan bangunan (Noor et al., 1999).

b. Rhizophora apiculata
Nama setempat : Bakau minyak, bakau tandok, bakau akik, bakau puteh, bakau kacang, bakau leutik, akik, bangka minyak, donggo akit, jangkar, abat, parai, mangi-mangi, slengkreng, tinjang wako. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter, dan kadang–kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu berwarna abu–abu tua dan berubah-ubah. Daun berkulit, warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah kemerahan dibagian bawah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Unit dan letak: sederhana dan berlawanan. Bentuk : elips menyempit dan meruncing. Ukuran 7-19 x 3,5-8 cm. Bunga : Biseksual, kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran < 14 mm. Letak : di ketiak daun. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Daun mahkota : 4; kuning putih, tidak ada rambut, panjangnya 9-11 mm. Kelopak bunga : 4; kuning kecoklatan, melengkung, Benang sari : 11-12; tak bertangkai. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir , warna coklat, panjang 2,3-5 cm, berisi satu biji fertil. Hipokotil Silindris, berbintil, berwarna hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi bisa mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi.

Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tumbuh lambat, tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun.

Penyebaran : Srilanka, seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia, tersebar jarang di Australia. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kayu bakar dan arang. Kulit kayu berisi hingga 30% tannin (per sen berat kering). Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Di Jawa acap kali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan (Noor et al, 1999).

c. Avicennia marina (Forsk.) Vierh.
Nama setempat api-api putih, api-api abang, sia-sia putih, pejapi, nyapi, hajusia. Deskripsi Umum belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar, ketinggian mencapai 30 m. memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus), akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning tidak berbulu. Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk cekung. Bagian bawah daun putih-abu-abu muda. Unit & letaknya sederhana dan berlawanan.memiliki bentuk daun elips, bulat memanjang, bulat telur terbalik. Ujungnya meruncing hingga membundar, dengan ukuran 9 x 4,5 cm.

Bunga seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan, bau menyengat, nektar banyak. Letaknya di ujung atau di ketiak/tandan bunga. Daun mahkota ada 4 dengan warna kuning pucat jingga tua berukuran 5-6 mm. Kelopak bunga berjumlah 5 lalu benang sari ada 4. Merupakan tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung, memiliki kemampuan menempati dan tumbuh pada berbagai habitat pasang surut, bahkan di tempat asin sekalipun. Jenis ini juga dapat bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat tertentu. Berbuah sepanjang tahun, kadang-kadang bersifat vivipar. Buah membuka pada saat matang, mempunyai lapisan dorsal. Buah juga dapat membuka karena dimakan semut atau setelah penyerapan air. Buah dapat dimakan. Kayu dapat menghasilkan bahan kertas berkualitas tinggi. Daun digunakan sebagai makanan ternak.

d. Acrostichum aureum
Nama setempat mangrove varen, paku cai, hata diuk, paku laut. Batang menebal di bagian pangkal, cokelat tua dengan peruratan yang halus, pucat, tipis. Ujung daun fertil berwarna cokelat seperti karat, duri banyak berwarna hitam. Tumbuh di pematang tambak, sepanjang kali dan sungai payau dan saluran. Terdapat di seluruh Indonesia. Daun tua dapat digunakan sebagai obat, alas ternak dan dapat dimakan di daerah Timor dan Sulawesi Utara (Noor et al., 1999).

Rabu, 25 April 2018

Peranan Unsur Mineral di dalam Pakan Ikan atau Udang Untuk Sistem Ketahanan Tubuh


Peranan Unsur Mineral di dalam Pakan Ikan atau Udang Untuk Sistem Ketahanan Tubuh 

Penerapan pakan dalam budidaya ikan dapat meningkatkan produksi dan keuntungan yang cukup besar. Nutrisi meliputi proses kimia dan fisiologis yang menyediakan nutrisi untuk hewan untuk fungsi normal, peningkatan kekebalan tubuh, ketahanan terhadap penyakit, pemeliharaan dan pertumbuhan. Ini melibatkan konsumsi, pencernaan, penyerapan dan transportasi zat gizi dan pembuangan limbah. Ada 20 unsur anorganik yang diakui yang melakukan fungsi penting dalam tubuh. Beberapa mineral dibutuhkan dalam jumlah yang cukup dan disebut Makro-unsur sementara yang lain yang dibutuhkan dalam jumlah yang lebih kecil yang disebut sebagai Micro-elemen (Trace Mineral). Unsur-unsur mikro (Trace Mineral) yang memiliki peran besar dalam nutrisi udang bersama dengan mineral lainnya untuk kesehatan tubuh udang / ikan dan produksi yang lebih baik.

Nutrisi dan Budidaya
Akuakultur telah dikembangkan secara luas dengan kepadatan tebar tinggi dengan tingkat produksi meningkat. Sumber daya makanan alami di tambak tidak dapat memberikan nutrisi yang dibutuhkan untuk udang / ikan di bawah praktik komersialisasi budaya. Nutrisi larut dalam air tidak cukup untuk pertumbuhan tubuh yang cepat dari hewan dengan dalam periode kultur yang terbatas. Pakan tambahan seimbang diperlukan untuk memberikan makan untuk mengatasi kekurangan gizi budidaya udang / ikan. Pemberian makanan tambahan sangat penting dan itu adalah bagian terbesar dalam budaya ini. Beberapa mineral termasuk trace mineral yang memainkan peran utama dalam nutrisi untuk berbagai fungsi tubuh dan pertumbuhan untuk budidaya semi-intensif / intensif.
Komposisi pakan yang diperkaya mineral memiliki dampak yang signifikan terhadap fungsi kekebalan tubuh, ketahanan terhadap penyakit, dan bebas stres pada udang / ikan. Sebagian besar persyaratan gizi hewan budidaya telah ditentukan di lingkungan kolam di mana penyakit dan stres telah diminimalkan.

Fungsi  Mineral:
Fungsi umum mineral meliputi unsur keseimbangan, exoskeleton tekanan osmotik, konstituen struktural jaringan dan transmisi impuls saraf dan kontraksi otot. Mineral berfungsi sebagai komponen penting untuk enzim, vitamin, hormon, pigmen, dan co-faktor dalam metabolisme, katalis, dan aktivator enzim. Udang dapat menyerap mineral atau mengeluarkan langsung dari lingkungan akuatik melalui insang dan permukaan tubuh. Jadi, kebutuhan diet mineral sangat tergantung pada konsentrasi mineral dari lingkungan air dimana udang sedang dibudidayakan.

Fungsi Elemen Mikro
Elemen mikro atau trace mineral, seperti kromium, kobalt, tembaga, yodium, zat besi, mangan, molibdenum, selenium dan seng, yang dibutuhkan dalam jumlah kecil dan berpartisipasi dalam berbagai proses biokimia. Mereka terlibat dalam metabolisme sel, pembentukan struktur rangka, pemeliharaan sistem koloid, regulasi keseimbangan asam-basa, kekebalan enhancer, pemberi kebebasan stres, tahan penyakit, dan fungsi fisiologis lain. Mereka adalah komponen penting dari hormon dan enzim, dan berfungsi sebagai kofaktor dan / atau aktivator dari berbagai enzim.

Peran Unsur Runutan pada Kekebalan Udang / Ikan
Komponen makanan bioaktif yang berinteraksi dengan respon imun memiliki potensi yang cukup besar untuk mengurangi kerentanan terhadap penyakit menular. Sistem kekebalan tubuh yang fungsional adalah sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kinerja udang / ikan dalam budidaya . Masing-masing dan setiap komponen jejak mineral yang memiliki peran khusus mereka dalam kekebalan hewan yang dibudidayakan tetapi jejak logam penting yang telah dikaitkan dengan peningkatan imunitas atau kekebalan fungsi yang mendukung, adalah Zn, Mn, Cu dan Se. Sistem kekebalan tubuh menggunakan beberapa metode untuk detoksifikasi agen-agen asing atau antigen. Para elemen yang telah dikombinasikan dengan peningkatan imunitas, atau berfungsi untuk memberi dukungan kekebalan. Mikro-elemen terutama telah diperkuat dengan pentingnya peran mereka dalam pertahanan kekebalan dan perlindungan antioksidan.

Stres dan  Perlawanan Terhadap Penyakit
Dalam budaya yang intensif, kondisi kualitas lingkungan dan air berfluktuasi dikombinasikan dengan praktik peternakan praktis dapat mengakibatkan perkembangan situasi stres yang mempengaruhi fisiologi dan persyaratan mineral mikro untuk spesies budidaya. Selama situasi stres, status selenium lebih efektif dikelola oleh sebuah bentuk organik selenium daripada bentuk anorganik. Kondisi stres juga bisa mempengaruhi regulasi osmotik dan ion dalam insang. Unsur-unsur mikro sangat membantu untuk mengurangi stres dan untuk ketahanan penyakit udang / ikan dalam akuakultur.

Persyaratan Mineral dalam Pakan
Para hewan air memiliki kemampuan untuk menyerap mineral dari air sekitarnya di samping dari makanan yang dicerna, dan karena variasi mereka dalam menanggapi garam regulasi atau tekanan osmotik. Ikan dan udang hidup di lingkungan yang hipertonik dan minum air garam dapat memenuhi sebagian persyaratan mineral mereka (NRC, 1983). Juga mereka membuat dengan penyerapan mineral langsung melalui, sirip insang dan kulit. Situasi di ikan air tawar dan udang adalah sebaliknya Ikan  air tawar dan udang karena itu lebih menuntut pada pasokan mineral yang memadai pada pakan mereka daripada ikan laut dan udang (Cowey dan Sargent, 1979).. Kebutuhan makanan dari ikan atau udang spesies tertentu untuk elemen akan tergantung untuk sebagian besar pada konsentrasi elemen dalam tubuh air.
Mineral Bioavailabilitas
Ketersediaan hayati dan penyimpanan jaringan mineral merupakan kepentingan utama dalam kinerja gizi mereka. Mineral chelated dengan molekul organik memiliki bioavailabilitas yang lebih tinggi daripada bentuk-bentuk yang berhubungan anorganik dan kurang berinteraksi dengan satu sama lain dalam saluran pencernaan. Asam amino chelates kobalt, mangan dan seng lebih mudah tersedia daripada garam anorganik mereka. Seng unsur organik metionin telah diperkirakan tiga kali lebih kuat daripada sulfat anorganik. Bentuk-bentuk organik dapat meningkatkan penyerapan unsur dengan baik melepaskan elemen atau diserap sebagai chelate utuh. Mineral chelated kurang sensitif terhadap aksi penghambatan dari senyawa lain karena kelarutan berkurang dalam air. Ketersediaan hayati meningkat dan efektivitas organik bentuk unsur mikro secara dramatis dapat mengurangi input yang diperlukan dan mengurangi pembuangan limbah ke lingkungan.

Gejala pada Defisiensi Mineral Dalam Ikan / Udang
Besi :
- anemia hipokromik mikrositik pertumbuhan, mengurangi efisiensi pakan
Zinc :
- Anorexia, tulang depresi, kematian yang tinggi, erosi sirip dan kulit, konsentrasi jaringan tinggi dan hepatopankreas, tubuh pendek
Mangan :
- Menghambat pertumbuhan, anoreksia, kehilangan keseimbangan, kematian, katarak, pertumbuhan abnormal.
Tembaga :
- Mengurangi pertumbuhan, katarak
Selenium:
- Peningkatan kematian, distrofi otot, glutathione depresi, anemia
Yodium:
- Tiroid hiperplasia / hormon bermasalah

Mineral Toksisitas
Bahaya utama yang mungkin berhubungan dengan penggunaan bahan pakan adalah adanya unsur-unsur mineral yang berpotensi beracun seperti tembaga elemen akumulatif, timah, kadmium, merkuri, arsenik, fluor, selenium, molibdenum dan vanadium. Tanda-tanda toksisitas pakan telah dilaporkan dalam ikan dan udang termasuk tanda toksisitas :
Zinc                 : Mengurangi pertumbuhan (tingkat makanan di atas 300 mg / kg Zn),
Tembaga          : Mengurangi pertumbuhan, efisiensi pakan, dan hematokrit (tingkat langsung di atas 15 mg / kg),
Selenium         : Mengurangi pertumbuhan dan efisiensi pakan, kematian yang tinggi (tingkat langsung di atas 13-15 mg / kg),
Kadmium        : Scoliosis, hiperaktif.
Chromium       : Mengurangi pertumbuhan dan efisiensi pakan
Besi                 : Mengurangi pertumbuhan

Nutrisi pakan lengkap diperlukan dalam budidaya, maka mikronutrien harus diberikan dalam tingkat yang memadai dalam pakan yang disiapkan untuk mendukung pertumbuhan optimal dan efisiensi produksi. Hal ini terutama berlaku dalam situasi yang intensif, dimana kompetensi kekebalan tubuh dan ketahanan terhadap penyakit dapat secara substansial dikompromikan oleh kekurangan berbagai nutrisi, terutama vitamin dan mineral mikro. Suplemen makanan dari beberapa mikronutrien yang melebihi tingkat kebutuhan minimum telah terbukti memiliki pengaruh positif terhadap imunitas, serta resistensi terhadap pemulihan dari penyakit.
Pakan  yang tepat kandungan unsurnya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam udang / ikan. Sistem kekebalan tubuh adalah salah satu interaksi seluler dan molekuler yang paling kompleks dan rumit dalam proses biologi. Semua nutrisi memiliki kemampuan untuk membuka sistem kekebalan tubuh untuk menangkal penyakit. Suplementasi nutrisi yang tepat tidak akan menghilangkan penyakit, tetapi akan memungkinkan sistem kekebalan hewan berbudidaya untuk beroperasi pada tingkat optimal untuk meminimalkan risiko infeksi dan penyakit. Fungsi dan peran nutrisi memiliki dampak signifikan lebih besar pada manajemen kesehatan dalam keberhasilan budidaya ikan.


Pengendalian Amonia dalam Budidaya di Tambak


Pengendalian Amonia dalam Budidaya di Tambak


Budidaya ikan terutama budidaya ikan yang intensif (padat tebar yang sangat tinggi) selalu menghadapi kesulitan karena amonia . Mengontrol amonia adalah yang paling penting untuk budidaya karena tingkat amonia yang tinggi dapat memiliki efek merugikan yang dapat menyebabkan lebih tinggi daripada tingkat kematian ikan. Pengamatan kontrol kadar amonia memerlukan pemahaman dasar tentang bagaimana amonia dengan konsentrasi tinggi bisa terbentuk dan bagaimana hilangkannya.

Tentang Amonia
            Amonia merupakan senyawa nitrogen bebas. Amonia merupakan hasil katabolisme protein yang diekskresikan oleh organisme dan merupakan salah satu hasil dari penguraian zat organic oleh bakteri. Amonia di dalam air terdapat dalam bentuk tak terionisasi (NH3)  atau bebas dan dalam bentuk terionisasi  (NH4)  atau ion ammonium. Sebab utama kontaminasi  Nitrogen dan sumber utama amoniak dalam tambak adalah limbah ikan.
Limbah ikan akan dipecah oleh bakteri heterotrofik, yang akhirnya menjadi amonia. Dalam lingkungan di mana tanaman hidup termasuk ganggang tidak disarankan, ada sedikit yang akan menyerap amonia dari air. Konsentrasi akan naik sampai ikan menjadi koma dan mati kecuali beberapa bentuk tindakan diambil untuk menghilangkan atau menurunkan kadarnya di air.

Amonia  Tinggi
Konsentrasi amonia yang tinggi di air dibuktikan dalam tambak dalam beberapa cara. Ganggang cenderung berkembang banyak ketika ada senyawa nitrogen berlebihan bebas, membuat hijau air sebagai akibat dari kehadiran alga. Ikan dari kolam dengan amonia berlebih akan memiliki rasa yang buruk. Ikan akan rentan terhadap penyakit, mungkin tampak stres, dan angka kematian cenderung meningkat melebihi tingkat biasa. Akhirnya, kadar oksigen akan berkurang. Dari tingkat keparahan dari gejala di atas, sangat jelas bahwa amonia bukanlah masalah kimia air ringan melainkan ancaman utama terhadap produktivitas dan profitabilitas dari setiap budidaya ikan. Amonia dihasilkan dari protein yang mengandung rantai asam amino, asam amino mengandung nitrogen – senyawa kimia berbahaya bagi ikan . Amonia dikatakan hadir dalam makanan ikan dan limbah ikan.
Kolam alam dan danau, kecil kemungkinannya untuk memiliki masalah amoniak karena airnya yang mengalir dan volume yang tinggi. Tingkat amonia di tambak alami secara praktis nol. Namun, masalah amonia lebih sering terjadi di kolam buatan manusia dengan ikan terlalu banyak daripada lingkungan alami. Pemberian pakan yang berlebihan  pada ikan dan udang dan filtrasi biologis yang tidak memadai dapat memperburuk masalah amoniak dalam tambak/kolam. Ada dua jenis di kolam: amonia, yang berbahaya dan amonium, yang kurang beracun. Amonium biasanya mengkonversi menjadi amonia dan ion hidrogen dan sebaliknya. Ketika ini terjadi, pH air kolam dan perubahan suhu akan mempengaruhi kondisi keseimbangan kolam.
Konsentrasi amoniak dalam kondisi pH yang stabil masih bisa menyebabkan malapetaka di kolam anda, terutama jika suhu air tinggi. Kolam dengan tingkat pH 9, terutama mereka dengan volume besar kolam ganggang hijau menyebabkan, alkalinitas menurun. Akumulasi ganggang di kolam juga memicu fluktuasi tingkat pH kolam. Ini adalah tempat sterilisasi UV untuk memerangi tingkat amonia berlebih dari kolam Anda.

Berapa Banyak Amonia Dikatakan Berlebihan?
Sebuah pertanyaan umum kaitannya dengan tingkat amonia, "berapa banyak terlalu banyak?" Hal ini sebenarnya agak rumit untuk menjawab pertanyaan karena ada perbedaan besar dalam konsentrasi amonia bahwa spesies ikan yang berbeda dapat tertangani. Hal ini lebih rumit oleh kenyataan bahwa ada variasi yang signifikan dalam toksisitas tergantung pada pH suhu dan air.
Suhu yang lebih rendah dan lebih tinggi pHnya akan membuat tingkat yang lebih rendah dari amonia beracun untuk ikan. Ikan tertentu sangat rentan terhadap kadar amonia tinggi akan tetapi spesies ikan lain dapat mentolerir.
Untuk spesies ikan air tawar kisaran 0,53-22,8 mg /L umumnya dianggap sebagai beracun, tapi masalah akan mulai terjadi dari jumlah yang lebih besar dari 0,1 mg / L. Pada lebih dari 0,1 mg / L kulit, mata, insang dan internal kerusakan organ dapat terjadi.. Padat penebaran yang tinggi akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan ikan dalam budidaya, karena terbatasnya ruang gerak ikan dan juga persaingan dalam memperebutkan makanan dan oksigen dalam perairan. Kualitas perairan dalam suatu perairan harus dikontrol terutama keberadaan ammoniak karena akan mempengaruhi pertumbuhan ikan, karena keberadaan ammoniak yang tinggi akan dapat menimbulkan tumbuhnya penyakit dan tentunya akan menghambat pertumbuhan ikan atau udang.
Pengendalian "amoniak" adalah masalah yang agak rumit dalam budidaya ikan. Pengobatan yang dapat bekerja dalam keadaan lain bisa menjadi racun bagi kehidupan ikan. Ikan sangat sensitif terhadap perubahan mendadak dalam yang terjadi di air. Menghapus amonia harus dilakukan tanpa secara dramatis mengubah pH dan paling baik dilakukan tanpa menggunakan zat aditif kimia yangkeras.
Amonia yang tinggi di tambak dapat dikendalikan secara efektif melalui penggunaan enzim dan bakteri . "Enzim" adalah rantai protein kompleks. Seperti protein biasa, mereka dibangun dalam pengaturan rantai dari asam amino . Apa yang membedakan enzim dari protein biasa adalah bahwa mereka mengkatalisis reaksi tertentu. Enzim akan bereaksi dengan substrat pada tingkat molekuler dan membentuk produk baru. Faktor pembeda lain yang membuat enzim sehingga cocok untuk budidaya adalah bahwa setiap jenis enzim hanya akan bereaksi dengan satu jenis substrat. Hal ini memungkinkan untuk menargetkan masalah air tertentu melalui penggunaan enzim - cukup pilih substrat yang ingin anda hapus dan membawanya ke dalam kontak dengan enzim yang sesuai. Enzim yang berbeda dapat digunakan dalam kombinasi dengan satu sama lain. Mereka hanya akan bereaksi terhadap substrat masing-masing dan oleh karena itu sangat stabil dalam larutan atau bubuk. Hal ini memungkinkan untuk mengobati berbagai masalah air dengan satu aplikasi produk.

Menggunakan Bakteri dan Enzim Bersama
Salah satu kelemahan dalam menggunakan enzim adalah bahwa mereka tidak akan memperbaharui diri. Enzim adalah kimia di alam sehingga mereka tidak mampu mereproduksi.  Kelemahan ini dapat diatasi dengan pasangan enzim berbasis pengobatan disertai penggunaan bakteri . Bakteri dapat bereproduksi dan secara aktif dapat mengkonsumsi jumlah yang berbeda zat kontaminan berbasis nutrisi termasuk amonia.
Bakteri tidak secepat-bertindak seperti enzim. Mereka akan mengambil waktu untuk menjadi mapan dalam air dan jangan mengalami beberapa masalah karena mereka datang ke dalam persaingan dengan bakteri asli. Karena enzim bertindak lebih cepat, menggunakan bakteri dalam kombinasi dengan enzim bakteri memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan, dan memungkinkan petambak untuk menggabungkan manfaat langsung dan jangka panjang dari kedua produk.
Perawatan bakteri menguntungkan secara substansial dari peningkatan DO biasanya dipasok dari aerasi mekanik. Optimalisasi  oksigen terlarut seringkali sulit dicapai karena tingkat paparan kolam air akan rendah oksigennya ketika tingkat amonia tinggi. Aerasi mekanik yang efisien dapat membantu dengan mencapai tingkat jenuh oksigen dan juga dapat membantu dalam penyebaran gas amonia bebas ke atmosfer.
Bakteri memiliki fungsi, baik aerobik maupun anaerobik. Ketika mengobati limbah dalam air kolam, adalah lebih baik dengan cara aerobik. Untuk memastikan fungsi bakteri aerobik, aerasi dianjurkan. Aerasi juga memiliki efek membawa bakteri dan enzim di seluruh kolom air.





diharapkan dapat dihilangkan oleh bakteri ini.
Melalui perawatan berbasis  enzim dan bakteri, banyak tambak memerlukan sedikit atau tidak ada aplikasi dari bahan kimia. Baik bakteri atau enzim akan menyebabkan perubahan signifikan dalam pH dan dengan demikian kolam tidak akan memerlukan perawatan pH. Dalam kombinasi, bakteri dan enzim adalah solusi untuk  mengendalikan amonia dan masalah gizi lainnya.