Sabtu, 18 Februari 2017

BUDIDAYA IKAN CUPANG



BUDIDAYA IKAN CUPANG

Latar Belakang
Ikan ini mempunyai bentuk yang kecil dengan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Ikan ini sering kali digunakan untuk cupang aduan, cupang hias dalam kalangan penggemar ikan hias.
Ikan cupang adalah ikan hias yang sangat dikenal oleh masyarakat. Ikan ini mempunyai bentuk yang kecil dengan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Ikan ini sering kali digunakan untuk cupang aduan, cupang hias dalam kalangan penggemar ikan hias. Ikan ini juga sering disebut ikan laga dan nama latinnya adalah Betta splendens, termasuk dalam famili Anabantidae (Labirynth Fisher).
Keindahan tubuh dan ciri-ciri yang spesifik yang dimiliki oleh setiap ikan hias serta nilai ekonomis, adalah faktor utama yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan hias. Salah satu jenis ikan yang memiliki syarat-syarat tersebut adalah ikan cupang hias.

1. Klasifikasi Ikan Cupang
Kingdom         : Animalia
Filum              : Chordata
Subfilum         : Vertebrata
Superkelas     : Gnathostomata
Kelas               : Oesteochytes
Subkelas         : Actinopterygii
Superordo     : Achantopteri
Ordo               : Perciformes
Subordo         : Anabantoidei
Famili              : Anabantidae
Subfamili        : Ctenopinae
Genus                         : Betta
Spesies           : Betta splendens

2. Morfologi Ikan Cupang
Ikan cupang memiliki bentuk yang sangat langsing atau ramping, memiliki kepanjangan hingga 6-7 cm dan juga memiliki warna dasar kuning hingga sawo matang. Ikan ini memiliki jenis dan juga varietes yang sangat berbeda- beda, karena banyaknya persilangan. Ikan ini juga termasuk jenis famili ikan gurami, sepat dan juga lainnya.
Ikan ini memiliki sisik yang sangat halus, dan mengkilap. Sisik ikan ini memiliki bentuk persegi dengan ukuran 0,2 – 0,3 mm bahkan lebih kecil tergantung dengan ukuran tubuh dan varietesnya. Selain itu, memiliki tangkai dua di bagian depan berwarna kemerahan, kekuningan dan juga lainnya yang berukuran antara 0.6-1 cm tergantung pertumbuhan.
Ikan cupang ini memiliki warna yang sangat bervariasi dan juga beragam mulai dari warna merah pekat, warna kuning pekat, warna kebiruan dan juga warna lainnya. Namun, warna ini tergantung jenis dan juga varietesnya. Ikan cupang juga memiliki sirip yang sangat bervariasi dan juga beragam mulai dari sirip yang berbentuk bulan, berbentuk kipas, berbentuk sisir dan juga ada yang berbentuk kain yang sangat tebal. Hal ini yang membuat ikan ini sangat menarik dan juga memiliki daya jual yang sangat tinggi.
Ikan cupang ini memiliki sifat yang sangat sensitif terhadap sejenis terutamanya ikan cupang jantan, berjumpa dengan ikan cupang jantan. Hal ini akan membuat ikan bertarung dan juga berkelahi apalagi jika dalam satu wadah. Oleh karena itu ikan ini sebaiknya di lakukan pemeliharaan dalam wadah terpisah.

3. Wadah Budidaya
Pada umumnya wadah pemeliharaannya adalah bak semen atau akuarium yang ukurannya tidak perlu besar yaitu cukup 1 x 2 m atau akuarium 100 x 40 x 50 cm, sedang wadah perkawinannya lebih kecil dari wadah pembesaran, yang bisa digunakan antara lain : baskom, akuarium kecil atau ember dapat dipakai untuk memijahkan ikan.

4. Ciri-Ciri Induk Jantan dan Betina
4.1. Ciri-ciri Induk Jantan
Ciri-ciri khas yang dimiliki oleh ikan cupang hias jantan adalah selain warnanya yang indah, siripnya pun panjang dan menyerupai sisir serit, sehingga sering disebut cupang serit. Sedangkan ikan betina warnanya tidak menarik (kusam) dan bentuk siripnya lebih pendek dari ikan jantan.
Ciri-ciri ikan jantan untuk dipijahkan :
1) Umur ± 4 bulan
2)        Bentuk badan dan siripnya panjang dan berwarna indah.
3) Gerakannya agresif dan lincah.
4)        Kondisi badan sehat (tidak terjangkit penyakit).
Ciri-ciri ikan betina untuk dipijahkan :
1) Umur telah mencapai +- 4 bulan
2)        Bentuk badan membulat menandakan siap kawin.
3)        Gerakannya lambat.
4)        Sirip pendek dan warnanya tidak menarik.
5)  Kondisi badan sehat.

5. Teknik Pemijahan dan Produksi
Pada induk jantan yang matang gonad warna siripnya lebih cerah sedang pada induk betina perutnya membuncit dan secara transparan, telur pada saluran pengeluaran dapat terlihat.
Pada prinsipnya pemijahan dilakukan secara berpasangan dalam setiap wadah yang terpisah (akuarium, ember atau dalam kotak-kotak yang ditempatkan didalam bak). Sebelum dicampurkan induk betina dimasukkan dalam botol agar tidak mengganggu jantan dalam membuat sarang busa. Sarang dibuat dengan cara mengambil gelembung udara dari permukaan dan melepaskannya ke bawah permukaan daun atau tanaman air yang mengapung dipermukaan air. Proses ini berlanjut berjam-jam dengan sesekali berhenti untuk makan.
Bila sarang telah siap, induk betina dikeluarkan dari botol, dicampurkan dengan jantan agar dapat memulai pemijahan. Pada saat pemijahan tubuh jantan menyelubungi induk betina membentuk huruf " U " dengan ventral saling berdekatan selama + 1 menit sampai mengeluarkan telur yang segera dibuahi sperma. Telur perlahan tenggelam dan akan segera diambil oleh induk jantan dengan mulutnya untuk selanjutnya diletakkan disarang busa. Proses pemijahan berlangsung selama + 1 jam dengan 20-25 tahap pemijahan yang sama.
Ketika aktifitas pemijahan berakhir, induk betina dipindahkan dari tempat pemijahan untuk dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk, namun sebaiknya lebih dulu dimasukkan dalam larutan metyline blue 2 mg/liter selama 24 jam untuk mengobati luka yang mungkin ada setelah pemijahan. Sedang induk jantan tetap pada wadah pemijahan untuk merawat dan menjaga telur sampai menetas. Dalam setiap kali pemijahan diperoleh telur sebanyak 1000-1500 butir. Selanjutnya pemeliharaan larva dan pendederan serta pembesaran dapat dilakukan pada wadah berupa bak tembok dengan pakan berupa cacing tubifex sp. atau Chironomus sp. untuk siap dipasarkan.

6. Pembesaran Anak
1.  Jika burayak ikan cupang sudah dapat berenang dan sudah habis kuning telurnya, sudah harus disiapkan media yang lebih besar untuk tempat pembesaran.
2.  Pindahkan anakan bersama induk jantannya.
3.  Kemudian benih ikan diberi makanan kutu air dan wadah ditutup.
4.  Setelah sepuluh hari, anak ikan dipindahkan ke tempat lain.
5.  Selanjutnya setiap satu minggu, ikan dipindahkan ke tempat lain untuk lebih cepat tumbuh.

7. Tahap Pemberian Makanan
Pada umumnya pemberian makanan pada anakan yang berumur kurang dari 5 hari bisa dihilangkan, karena anakan yang berumur kurang dari 5 hari tersebut masih mempunyai cadangan makanan yang dihasilkan oleh kuning telur yang melindunginya. jadi mulai umur 5-10 hari anakan baru mulai diberi makanan berupa : roteria, infusaria, kuning telor mentah dan setelah tahap kedua terlewati dengan lancar, masuklah ke dalam tahap ke 3 dimana anakan berumur 10-17 hari, anakan ini bisa diberi makanan berupa : kutu air yang disaring. Dan tahap terakhir bagi anakan yang berumur lebih dari 17 hari, bisa diberi makanan berupa kutu air, cuk, cacing sutra .
·      Jadwal pemberian makanan anakan:
-  Hari 0-5 -----------> Tidak perlu diberi apa apa
- Hari 5-10 -----------> Diberi Infusaria, Roteria, Kuning telor rebus
- Hari 10-17 -----------> Diberi kutu air yang telah disaring
- Hari >17 -----------> Diberi kutu air, cuk, cacing sutra

8. Tahap Pemindahan Anakan
Setelah melewati 4 tahap yang pertama mengenai cara pembarian pakan , sekarang yang perlu dilakukan adalah memindahkan anakan ikan cupang tersebut ke dalam kolam pendederan.
Tahapan persiapan dan perlakuan lainnya selama berada di dalam bak pendederan harus disesuaikan dengan jenis ikan hias yang dipijahkan. Wadah yang umum digunakan yaitu: fiberglass, drum bekas, paso, ember atau bak semen. Demikian pula dengan penempatannya, akan lebih baik bila ditempatkan ditempat yang terbuka dan cukup mendapatkan sinar matahari yang cukup
1.  Untuk mengurangi sinar matahari langsung , dapat menggunakan tumbuhan enceng gondok sebagai tambahan.
2.  Sebaiknya ukuran bak pendederan cukup besar, misalnya dengan menggunakan bak fiberglass ukuran 1m x 1m x 0,5 m, sehingga burayak tersebut dapat berkembang dengan baik. Ketinggian air adalah 3/4 dari tinggi bak.
3.  Untuk menghindari penyakit, air yang digunakan dicampur dengan rebusan daun ketapang dan sedikit garam, aduklah secara merata, dan endapkan selama 1 hari. Cara pemindahan dapat dilakukan dengan memindahkan secara langsung dari akuarium, tetapi jangan lupa untuk melakukan "penyifonan" untuk membuang kotoran yang ada. Lamanya pemeliharaan di kolam pendederan kira-kira 1 bulan.
4.  Untuk pemberian pakan perlu diperhatikan berdasarkan umurnya, dan jangan sampai berlebihan. Penyifonan dilakukan minimal 2 hari sekali untuk menjaga kebersihan air.

9. Pembesaran
Siapkan akuarium dengan ukuran 20x20x15 atau stoples yang sebanding. Perlu diingat, bahwa semakin besar semakin baik pula pertumbuhan tubuh dan siripnya(lebih optiman). isi air dengan 3/4 dari tinggi wadah. Kualitas air yang digunakan harus sama dengan air yang diberikan pada waktu pendederan, sehingga ikan cepat beradaptasi. Jangan lupa memberi penyekat (berupa karton, kertas, dll) antara akuarium. wadah lain yang perlu disiapkan adalah akuarium biasa yang kira-kira bisa menampung 80-100 ekor anakan. Tujuannya agar proses penyortiran dapat berjalan lebih mudah.
Ketika burayak ikan cupang sudah dapat berenang dan sudah habis kuning telurnya, sudah harus disiapkan media yang lebih besar untuk tempat pembesaran. Pindahkan anakan bersama induk jantannya. Kemudian benih ikan diberi makanan kutu air dan wadah ditutup. Sepuluh hari kemudian anak ikan dipindahkan ke tempat lain. Dan selanjutnya setiap satu minggu, ikan dipindahkan ke tempat lain untuk lebih cepat tumbuh.

10. Pemanenan dan Pasca Panen
Pasca panen yaitu setelah ikan cupang hias mencapai 1 bulan sudah dapat dilakukan pemanenan sekaligus dapat diseleksi atau dipilih. Ikan yang berkwalitas baik dan cupang hasil seleksi dipisahkan dengan ditempatkan ke dalam botol-botol tersendiri agar dapat berkembang dengan baik serta menghindari perkelahian. Setelah usia 1,5 sampai 2 bulan cupang hias mulai terlihat keindahannya dan dapat dipasarkan.



Selasa, 14 Februari 2017

MENJAGA KUALITAS AIR TETAP OPTIMUM DALAM BUDIDAYA IKAN HIAS



MENJAGA KUALITAS AIR TETAP OPTIMUM
DALAM BUDIDAYA IKAN HIAS

Latar Belakang
Salah satu alternatif yang bisa dipakai agar dapat menggunakan air secara efisien dan efektif untuk budididaya ikan adalah dengan sistem resirkulasi. Sistem resirkulasi merupakan salah satu jawaban yang bisa digunakan dalam memperbaiki mutu air sehingga dapat digunakan secara terus menerus. Sistem ini menggunakan system aliran tertutup dimana air yang digunakan untuk budidaya ikan akan mengalir terus kemudian diputar ke tempat penyaringan dan diteruskan ke tempat budidaya untuk digunakan lagi begitu seterusnya.  
Sistem resirkulasi dibuat bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan yang stabil selama pemeliharaan ikan. Spesies air laut yang bisa dikultur dalam resirkulasi aliran tertutup adalah ; kakap, kerapu, sidat sedangkan untuk jenis ikan hias sebagian besar bisa dibudidayakan dalam sistem ini seperti : koki, koi, discus, arwana, black gost dll. Pada prinsipnya sistem resirkulasi sangat simple karena memerlukan tempat yang kecil dengan padat tebar yang tinggi tentunya hasil yang diperoleh akan tinggi.

Ø Bahan Organik
Sebelum kita berbicara biofilter dalam sistem resirkulasi kita harus tahu dulu, apa yang menyebabkan kualitas air menurun selama kegiatan budidaya ikan. Bahan organik terdiri atas  karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Unsur-unsur lain yang kadang terdapat adalah sulfur, fospor dan besi. Pada tingkat pencemaran limbah yang sedang, 75% dari bahan padat tersuspensi dan 40% dari yang lolos dari penyaringan terdiri atas bahan organik. Air limbah yang stagnan diperkirakan terdiri atas 50% karbon dan 35-50% nitrogen dalam bentuk larutan. Dari ¾ bagian karbon terdiri atas komponen utama bahan organik dalam bentuk karbohidrat, lemak, protein, asam lemak dan asam folatil. Sedangkan bagian lainnya seperti hormon, vitamin, surfaktan, antibiotik, hormon kontrasepsi, purin, pestisida, hidrokarbon dan pigmen. Sebagian besar bahan organik sintetik  masuk dalam golongan yang tidak bisa biodegradasi sedangkan bagian kecil lainnya akan mengalami laju dekomposisi biologi yang sangat lambat (Gray, 2004).
Nitrogen dan fospor merupakan nutrien esensial untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen sangat esensial bagi sintesis protein dan pertumbuhan biologis.  Nitrogen yang terkandung pada air limbah segar (baru),  tersaji dalam bentuk bahan protein dan urea. Bahan organik nitrogen ini mengalami dekomposisi secara cepat oleh bakteri dalam proses protein atau hidrolisis saat mengubah urea ke amoniak.  Amoniak di air dalam bentuk ion amonium (NH4+) dan amoniak (NH3), yang keberadaannya tergantung dari pH air limbah. Saat nilai pH 7, reaksi kesetimbangan di air limbah sebagai berikut :

NH3  +  H2   NH4+ +  OH-
Saat nilai pH > 7 maka reaksi bergeser ke arah kiri sehingga amoniak akan dominan, begitu pula sebaliknya saat nilai pH < 7. Fospor dalam air limbah terdiri atas 3 bentuk yaitu ortofospat, polifospat dan organik fospat. Sekitar 25% dari total fospor pada air limbah terdiri atas ortofospat, seperti PO43+, HPO42-, H2PO4-, H3PO4 yang keberadaannya dibutuhkan untuk proses metabolisme makhluk hidup. Ryadi (1984) menyatakan bahwa proses pemusnahan bahan-bahan organik secara alamiah pada umumnya lebih mudah daripada bahan-bahan anorganik maupun sintetis lainnya, dimana proses penguraian tersebut sangat dipengaruhi oleh ada/tidaknya oksigen.

Ø Bahan Anorganik
Bahan anorganik yang biasa dijumpai dalam air limbah adalah sodium, kalsium, potasium, magnesium, klorin, sulfur (sulfat dan bentuk lainnya), fospat, bikarbonat dan amoniak. Ketika elemen-element tersebut terbatas jumlahnya dalam air limbah (seperti Ca, Mg, Fe) maka efisiensi pengolahan secara biologi juga berkurang. Klorida secara alamiah ditemukan dalam larutan, dan dapat bersumber dari pertanian, limbah industri dan rumah tangga. Limbah feses manusia menghasilkan 6 g Cl per hari/kapita sedangkan urin sebesar 1% Cl. Bahan anorganik lainnya yang berbahaya dan dijumpai dalam air limbah adalah logam berat (Gray, 2004). Sulfur merupakan elemen esensial lainnya yang dibutuhkan semua mahluk hidup untuk proses metabolisme.  Jumlah sulfur yang digunakan mikroorganisme sangat sedikit untuk sintesis asam amino metionin dan sistein. Sedangkan logam berat yang biasanya terdapat pada air limbah adalah nikel, timbal, kromium, kadmium, seng dan tembaga yang bersifat toksik pada konsentrasi tertentu.

Ø Sumber Air Limbah Lain
Sumber air limbah yang kaya akan bahan organik biasanya dapat dibiodegradasi. Air limbah tersebut biasanya bersumber dari peternakan, perikanan, produksi pakan ternak, pengolahan makanan dan pabrik susu (Gray, 2004).

Ø Mikroorganisme dan Pengendalian Pencemaran
Mikroorganisme mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengendalian pencemaran, karena merupakan komponen ekosistem perairan yang dapat melakukan self-purifikasi di perairan melalui respon terhadap pencemaran organik dengan melakukan peningkatan pertumbuhan dan metabolisme.. Mikroorganisme menggunakan  bahan organik untuk menghasilkan energi dengan melakukan respirasi sel dan untuk sintesis protein serta komponen sel lainnya dalam pembentukan sel-sel baru. Reaksi yang terjadi di perairan adalah sebagai berikut :

Bahan organik + O2 + NH42+ +  P ------->   Sel-sel baru  +  CO2 + H2O
Gray (2004) mengemukakan bahwa kultur mikroorganisme dapat digunakan untuk penilaian air limbah dengan menggunakan tes Biochemical Oxygen Demand (BOD5).
 Banyak penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang ada di air limbah dan biasanya bersifat patogen. Penggunaan mikroorganisme, seperti Escherichia colisangat berguna sebagai indikator organisme untuk menilai kualitas mikrobiologi air untuk air minum, rekreasi dan industri. Hal ini sama pentingnya dalam penilaian efisiensi pengolahan air limbah, sehingga mikroorganisme merupakan alat yang penting dalam pengendalian pencemaran.
Mikroorganisme yang mempunyai kemampuan metabolisme yang paling tinggi adalah bakteri, diikuti oleh eumycetes dan protozoa. Mikroorganisme tersebut mempunyai ukuran yang sangat kecil tetapi kemampuan metabolismenya sangat tinggi. Bakteri adalah mikroorganisme kecil yang pada umumnya bersel satu, tidak  berklorofil, berkembang biak dengan pembelahan secara biner serta hidup bebas secara kosmopolitan, khususnya  di udara, di dalam tanah, air, bahan pangan, tubuh manusia, hewan ataupun tanaman (Dwijoseputro, 1986).  
Kehidupan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suhu, kelembaban, konsentrasi oksigen, kondisi nutrisi, ketersediaan air dan keasaman (Lay dan Hastowo, 1992). Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme terpenting di dalam limbah karena banyak diantaranya dapat digunakan untuk menghilangkan bahan-bahan tertentu yang tidak diinginkan, namun banyak juga yang memperburuk keadaan limbah tersebut,  seperti bakteri filamen.

Ø Komponen Sistem Resirkulasi
Resirkulasi untuk budidaya ikan merupakan rangkaian beberapa komponen yang diperlukan dalam suatu kesatuan. Di dalamnya terdapat beberapa komponen yang akan diterangkan sbb:
-       Bangunan
Bangunan instalasi berguna dalam mengamankan resirkulasi dari gangguan terutama perubahan iklim dari luar. Ikan Budidaya akan selalu terjaga selama dalam pemeliharaan dan perawatan
-       Pompa
Pompa digunakan untuk memindahkan air dan system aerasi. Ini sangat diperlukan didalam menjaga kesediaan air yang akan digunakan di dalam system resirkulai yang bekerja.
-       Generator Cadangan
Generator cadangan diperlukan saat aliran listrik mati karena kelebihan beban atau dalam perbaikan.
-       Sistem Komponen
Komponen system didalamnya peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan budidaya ikan tanpa resirkulasi. Komponen utama yang terakit adalah :
-       Generator/pompa oksigen
Ikan membutuhkan oksigen untuk hidup. Kebutuhan oksigen untuk budidaya ikan dalam tangki/akuarium dengan kepadatan tinggi menggunakan aerasi sederhana dan menggunakan aerasi mekanik tidak efisien. Oksigen bisa diperoleh melalui oksigen cair atau pompa oksigen, selama perawatan ikan kepadatan yang tinggi.
-       Filter
Filter biasa digunakan sebagai alat untuk menyaring atau membersihkan air dari sampah dan kotoran. Berbagai macam sampah berupa limbah yang dihasilkan oleh industri, pertanian dan rumah tangga  masing-masing memerlukan penangan yang berbeda tergantung dari berat ringannya limbah yang dihasilkan.
a.  Filter Mekanik
Filter ini mengandalkan kerja kimia dan fisika berupa pengendapan dan penyaringan melalui pori-pori. Filter mekanik membuang bahan organik yang berasal dari sisa metabolisme berupa kotoran dan kencing ikan serta pakan yang tidak termakan. Pembuangan bahan organik sangat penting melalui pipa yang berakhir dalam bentuk limbah. Proses oksidasi limbah di dalam tangki memerlukan oksigen yang berada di kolom air. Bermacam-macam jenis filter mekanik dapat digunakan tergantung dari besar  limbah buangan yang dihasilkan dalam proses tersebut. Sebagai contoh didalam filter terdapat, penyaring, pengendapan, filter pasir. Filter mekanik secara sederhana mencegah akumulasi lumpur yang berlebih. Contoh : saringan besi, dakron, busa, serabut kelapa dll
b. Filter Biologi
Ikan menghasilkan ammonia dan nitrit sebagai sisa metabolisme yang bersifat racun. Hasil metabolisme ini memerlukan perubahan kedalam bentuk nitrit yang tidak berbahaya bagi ikan.

                         bakteri
   NH42+ +  O2 -------->   NO2- + energi

                         bakteri
    NO2- +  O2 -------->   NO3 + energi
   
Filter biologi bekerja memanfaatkan kerja bakteri yang bisa mengakumulasi bahan organik dengan bantuan suhu dan oksigen. Bakteri yang biasa terlibat dalam oksidasi bahan organik adalah bakteri aerob dan anaerob, masing-masing mempunyai kekuatan yang berbeda dalam mengakumulasi bahan organik. Bahan organik yang biasa dioksidasi berupa unsur N yang terakumulasi dan mengendap di perairan dalam bentuk ammonia. Ammonia yang merupakan sisa buangan dari sisa metabolisme ikan dan pakan yang tidak termakan merupakan makan bagi bakteri. Aplikasi untuk tambak udang menggunakan filter berupa kijing di bak tandon sehingga air yang mengandung bahan organik dari pelataran tambak akan disaring di bak tandon kemudian dialirkan ke kotak budidaya. Contoh : Nitrobakter sp, Nitrosomonas sp,  pseodomonas sp.
c. Filter Kimia
Filter ini menggunakan kerja bahan kimia dalam mengurangi tinggingya limbah buangan yang dihasilkan. Bahan kimia yang digunakan biasayang untuk mengendapkan bahan-bahan yang berbahaya yang dikenal dengan B3 atau Bahan Berbahaya dan Beracun. Sistem kerjanya adalah mengendapkan endapan limbah menggunakan bahan kimia. Untuk air minum yang biasa di gunakan di PDAM biasa menggunakan klorin/tawas dalam mengendapkan material yang masih menyatu dengan air sehingga akan menghasilkan air yang jernih dan telah terbebas dari mikroorganisme yang berbahaya.
            Filter kimia biasa digunakan oleh industri-industri yang menghasilkan limbah buagan dengan kosentrasi yang tinggi. Beberapa industri yang menghasilkan limbah dengan kandungan tinggi seperti: industri tekstil, batik, dll.
Contoh : arang aktif, zeolit, batu karang dll

-   Unit Resirkulasi
Sistem resirkulasi dengan skala laboratorium bisa dibuat sesuai dengan kebutuhan dan lahan yang ada. Adapun komponen-komponen yang minimal ada untuk sebuah sistem resirkulasi adalah sbb:
1.  Satu bak/gentong sebagai tempat filter yang akan disedot oleh pompa untuk dialirkan ke
2.  Akuarium yang berukuran 40 X 50 X 40 cm.
3.  Pompa untuk mengalirkan air dari bak filter ke akuarium
4.  Filter (bioboll, karang, zeolit dll)
Sebelum digunakan resirkulasi didiamkan selama tujuh hari untuk menjalankan system biofilter. Kerja biologi bisa ditandai setelah adanya akumulasi antara ammonia nitrat dan nitrit selama kurang lebih 14 hari. Setelah sistem berjalan ikan bisa ditebar dan budidaya bisa dilaksanakan.